Anak bungsu adalah sebutan untuk anak terakhir atau termuda dalam sebuah keluarga, biasanya dianggap memiliki sifat yang manja dan tidak mandiri. Padahal faktanya, psikolog memiliki pandangan yang lebih kompleks terhadap sikap dan karakteristik anak terakhir.
Psikolog memang membenarkan bahwa urutan kelahiran dapat memengaruhi sifat atau karakteristik masing-masing anak, namun hal tersebut tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur yang mutlak karena karakteristik dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Untuk itu, dalam artikel ini kami akan mengajak kamu memahami lebih dalam mengenai sifat-sifat anak bungsu yang unik dibandingkan dengan yang lain.
Apa Itu Anak Bungsu?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bungsu diartikan sebagai yang terakhir atau yang termuda. Lebih detailnya, anak bungsu adalah sebutan yang digunakan untuk memanggil anak yang lahir terakhir atau termuda dalam sebuah keluarga.
Biasanya, anak paling muda ini sering juga disebut dengan istilah “anak bontot” dan sering dianggap memiliki kepribadian yang lebih manja dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lebih besar.
Pada tahun 1927, seorang psikolog bernama Alfred Adler pernah mencetuskan sindrom anak bungsu. Ia mengklasifikasikan bahwa anak paling muda atau yang lahir di urutan terakhir biasanya memiliki jiwa sosial, kepercayaan diri, kreativitas yang tinggi, mudah memecahkan masalah, serta mahir membuat orang lain melakukan sesuatu untuk mereka.
Namun, seiring berkembangnya waktu, klasifikasi tersebut nampaknya telah bergeser. Saat ini justru banyak yang menganggap anak bungsu cenderung memiliki sifat yang manja dan menginginkan perhatian lebih.
Walaupun pada kenyataannya, manja bukan sebuah sifat eksklusif yang hanya dimiliki oleh anak terakhir.
Sifat dan Kepribadian Anak Bungsu Menurut Psikologi

Mengutip dari KlikDokter, Gracia Ivonika, M.Psi., seorang psikolog klinis, menjelaskan bahwa teori mengenai urutan kelahiran dan kepribadian memang benar adanya. Namun, hal tersebut tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya tolok ukur karena karakteristik setiap anak itu dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, termasuk pola asuh dan lingkungan sekitar.
Lalu, apa sajakah sifat dan kepribadian anak bungsu menurut psikologi? Berikut beberapa diantaranya:
1. Humoris dan Menghibur
Anak bungsu biasanya memiliki sifat yang lebih pandai untuk bersosialisasi dan menjadi pencair suasana, baik dalam lingkup keluarga maupun pertemanan. Mereka biasanya memiliki humor yang lebih menonjol dibandingkan dengan kakak-kakaknya.
2. Kreatif dan Inovatif
Selain humoris, ciri karakteristik anak bungsu selanjutnya adalah kreatif dan inovatif. Banyak penelitian dan literatur psikologi yang menyebutkan bahwa anak terakhir biasanya akan tumbuh menjadi sosok yang lebih kreatif, inovatif, sekaligus berjiwa bebas karena pengaruh pola asuh orang tua yang lebih santai dan kebiasaan mereka dalam mengamati pengalaman dari kakak-kakaknya di rumah.
3. Santai dan Tidak Perfeksionis
Sifat santai dan tidak perfeksionis adalah salah satu perbedaan antara anak sulung dan bungsu. Si bungsu biasanya memiliki sifat yang lebih santai, fleksibel, dan tidak begitu perfeksionis jika dibandingkan dengan kakak pertamanya.
Sifat ini tentunya dipengaruhi oleh faktor psikologis dan pola asuh keluarga. Ketika si bungsu lahir, orang tua biasanya akan lebih fleksibel dan tidak terlalu kaku terhadap aturan dalam mengasuhnya.
Berbeda dengan anak pertama yang sering kali harus memikul ekspektasi yang tinggi dari orang tua, sehingga membuat mereka lebih kaku dalam menjalani kehidupannya.
4. Pemberani dan Suka Mengambil Risiko
Secara psikologis, anak bungsu juga sering dianggap memiliki sifat yang lebih berani dan suka mengambil risiko atau tantangan. Hal ini karena anak bungsu terbiasa mengamati kesuksesan ataupun kegagalan dari kakak-kakaknya.
Mereka sering melakukan berbagai eksperimen sebagai media pembuktian diri sehingga lebih terbuka terhadap berbagai hal baru. Hal ini juga dikarenakan anak bungsu harus mencari “celah” yang dapat membedakan dirinya dengan saudara yang lain.
5. Pandai Bersosialisasi
Si bungsu juga biasanya lebih pandai bersosialisasi dibandingkan dengan kakaknya. Mereka tumbuh dengan sosok atau figur yang lebih tua di rumah sehingga mereka terbiasa membaca orang lain dan lebih luwes dalam bergaul.
6. Manipulatif / Pandai Membujuk
Sifat anak bungsu, baik laki-laki maupun perempuan, dinilai lebih manipulatif. Namun, dalam dunia psikologi, sikap manipulatif ini bukanlah hal yang jahat, melainkan berperan sebagai mekanisme dalam beradaptasi.
Karena posisi mereka sebagai anak yang paling kecil dan lemah secara fisik, biasanya mereka akan berusaha mendapatkan keinginannya melalui rayuan, rengekan, pesona, maupun kelucuannya, bukan dari kekuatannya.
7. Kompetitif
Jiwa lebih kompetitif biasanya tumbuh pada diri anak bungsu karena mereka memiliki kakaknya sebagai pacemaker. Mereka biasanya ingin membuktikan diri atau menyaingi pencapaian kakak-kakaknya, sehingga menjadi anak yang paling ambisius di tengah keluarga.
8. Pemberontak Terhadap Aturan
Anak bungsu secara psikologis biasanya lebih santai dan tidak terlalu terikat pada aturan yang kaku jika dibandingkan dengan anak sulung. Mereka biasanya lebih kreatif, fleksibel, dan berani mengambil risiko, yang terkadang sering disalahartikan sebagai pemberontak terhadap aturan.
9. Mudah Beradaptasi
Berbeda dengan kakak-kakaknya, anak bungsu biasanya lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Mereka sudah terbiasa belajar dari kakak-kakaknya sehingga lebih luwes dalam bersosialisasi dengan berbagai kalangan.
10. Percaya Diri
Anak bungsu juga biasanya dikenal memiliki sifat yang lebih percaya diri dengan jiwa sosial yang tinggi. Menurut Alfred Adler, dinamika keluarga memiliki peranan yang sangat tinggi dalam membentuk karakter ini.
Cara Mendidik Anak Bungsu agar Berkembang Optimal

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, sifat atau karakteristik anak bungsu tidak dapat dipukul rata. Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi sifat mereka, termasuk lingkungan sekitar dan pola asuh orang tua di rumah.
Jika Anda memiliki anak bungsu dan ingin memberikan pola asuh yang optimal untuk perkembangan mereka, berikut adalah beberapa cara mendidik anak bungsu yang bisa dilakukan:
- Berikanlah tanggung jawab yang nyata: Anda dapat melatih kemandirian si bungsu dengan memberikan berbagai tugas rumah tangga yang sederhana. Jangan selalu membantu mereka untuk hal-hal yang sudah mereka lakukan sendiri agar tidak tumbuh menjadi pribadi yang manja dan terlalu bergantung pada orang lain.
- Apresiasi usaha mereka, bukan hanya hasil: Banyak orang tua yang lupa atau kurang antusias terhadap pencapaian yang diberikan atau dilakukan oleh anak bungsu, dibandingkan dengan anak pertama. Padahal, memberikan apresiasi terhadap proses atau kerja keras mereka sangat bermanfaat untuk membangun kepercayaan diri.
- Jangan selalu memenuhi keinginan mereka: Sebagai orang tua, Anda pasti ingin memberikan usaha terbaik untuk anak-anak. Namun, hal tersebut bukan berarti harus mengabulkan semua permintaan si bungsu. Ajarkanlah kepada mereka konsep bahwa tidak semua yang mereka inginkan dapat didapatkan dengan mudah dan instan untuk melatih kesabaran dan kegigihan dalam mendapatkan sesuatu.
- Dengarkan pendapat mereka: Terkadang anak bungsu dianggap sebagai anak kecil dan suaranya tidak begitu didengar oleh orang tua atau saudaranya. Mendengarkan pendapat dan melibatkan mereka dalam diskusi keluarga justru memberikan efek luar biasa terhadap kemampuan sosialisasi dan pengambilan keputusan si bungsu.
- Jangan pernah membandingkan dengan kakaknya: Setiap anak memiliki ritme perkembangan, keunikan, dan kelebihan masing-masing. Jangan pernah membandingkan mereka satu sama lain.
Fakta Menarik Anak Bungsu Menurut Penelitian
Buang jauh-jauh stigma manja yang selalu mengikat pada anak bungsu. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa anak terakhir memiliki berbagai keunggulan yang jarang disadari oleh orang tua, diantaranya:
1. Lebih Humoris Dibanding Anak Sulung
Berdasarkan survei YouGov di Inggris, dari 1800 orang, 46% anak bungsu mempercayai bahwa mereka merupakan anggota keluarga terlucu di rumah. Sedangkan untuk anak sulung, hanya 30% di antaranya yang berpikiran demikian.
2. Memiliki Jiwa yang Lebih Kreatif
Anak bungsu memang tidak terlahir dengan “gen kreatif”, namun berdasarkan teori family niche dari Frank Sulloway (1996), mereka menjadikan kreativitas sebagai strategi dalam beradaptasi. Kondisi ini terjadi karena peran sebagai “anak teladan” biasanya sudah diambil oleh kakaknya, sehingga si bungsu akan mencari cara lain yang tidak biasa agar bisa menonjol, seperti melalui kreativitas atau hal lainnya.
3. Memiliki Keberanian yang Tinggi
Anak bungsu juga dinilai memiliki keberanian yang lebih tinggi dalam mengambil risiko, dan hal ini sudah dibuktikan dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sulloway dan Zweigenhaft (2010) pada 700 pasang kakak-adik pemain baseball MLB. Hasil akhir menemukan bahwa anak bungsu cenderung lebih berani untuk mengambil risiko; mereka 10,6 kali lebih sering mencoba mencuri base dibandingkan dengan kakaknya.
Kesimpulan
Sifat manja atau sifat lain yang sering melekat pada anak bungsu bukanlah takdir yang pasti karena penelitian telah menunjukkan bahwa kepribadian dapat ditentukan oleh pola asuh dan lingkungan sekitar, bukan hanya urutan lahir. Sebagai orang tua, mengenali keunikan dan merawatnya dengan pola asuh yang tepat untuk anak bungsu merupakan hal yang penting agar mereka tumbuh menjadi versi terbaik diri mereka sendiri.
Merawat dan menumbuhkan karakter positif pada anak bungsu dapat dimulai dari hal sesederhana bermain. Di Mai Main Playground, si bungsu dapat dengan bebas mengeksplorasi berbagai aktivitas seru yang telah dirancang untuk mengasah karakter-karakter krusial bagi mereka seperti kemandirian dan kepercayaan diri.


