Pernah merasa stres karena si kecil terus rewel saat tidak bisa tidur atau terbangun di malam hari? Kondisi seperti ini dapat menjadi tanda bahwa sleep training untuk bayi sangat diperlukan. Metode pelatihan tidur dapat membantu mereka untuk terlelap sendiri dan memiliki jadwal yang jelas.
Teknik ini bermanfaat untuk melatih si kecil agar mendapatkan istirahat yang berkualitas, mendorong produksi hormon pertumbuhan, sekaligus membantu orang tua untuk mendapatkan waktu istirahat yang cukup agar tetap bisa menjaga kesehatan mental dan fisik. Nah, di bawah ini kami akan memberikan panduan cara mudah dan aman untuk menerapkan metode sleep training untuk bayi di rumah.
Apa itu sleep training dan kapan usia tepat untuk memulainya?

Sleep training adalah sebuah metode yang digunakan untuk melatih bayi agar bisa tidur sendiri dengan tenang meskipun tanpa adanya bantuan dari orang tua. Tujuannya adalah agar mereka dapat menenangkan diri sendiri dan kembali tidur ketika terbangun di malam hari, sehingga kualitas istirahat yang didapatkan oleh anak dan orang tua dapat sama-sama meningkat.
Waktu yang tepat untuk memberikan metode pelatihan ini kepada buah hati adalah ketika sudah menginjak usia 4-6 bulan. Pada periode ini, si kecil biasanya sudah siap tidur dalam waktu yang lebih lama secara fisik, mulai memiliki ritme tidur yang cukup teratur, serta belum terpaku pada kebiasaan tertentu untuk bisa tidur.
Selain usia, mengutip dari Bebeclub, Dr. Angela Holliday-Bell, seorang dokter spesialis anak dan pakar kesehatan tidur klinis, menjelaskan bahwa berat badan anak yang berada di angka 6–6,5 kg dapat menjadi patokan aman untuk memulai latihan tidur karena bayi biasanya sudah tidak perlu lagi menyusu pada malam hari.
Jika si kecil sudah berusia 4 bulan dengan berat badan 6–6,5 kg, maka ia sudah cukup siap untuk menjalankan metode ini. Namun, perlu diketahui juga bahwa kondisi setiap bayi dapat berbeda-beda. Jika merasa terlalu cepat, orang tua dapat memulainya pada usia lebih, yaitu 6-9 bulan, atau mengonsultasikannya secara langsung dengan dokter anak agar bisa mendapatkan arahan yang tepat.
Metode-Metode Sleep Training yang Populer
Bagi orang dewasa, tidur mungkin bukanlah suatu hal yang sulit dan perlu dilatih, namun bagi bayi, tidur nyenyak sepanjang malam merupakan hal yang perlu dipelajari sedikit demi sedikit. Hal tersebut dikarenakan jam biologis mereka belum terbentuk sepenuhnya, sehingga sangat wajar jika si kecil sering terbangun di malam hari dan memerlukan bantuan dari orang tua untuk terlelap kembali.
Jika si kecil dirasa sudah cukup siap untuk mendapatkan sleep training, ada beberapa metode yang bisa disesuaikan dengan kenyamanan orang tua dan buah hati. Berikut adalah beberapa metode yang banyak dipilih:
1. Cry it Out Method
Metode ini mengajarkan bayi agar bisa tidur sendiri dengan membiarkan mereka tenang secara mandiri meskipun sempat menangis. Setelah melakukan rutinitas, letakkan bayi di kasur dan biarkan mereka mencoba tidur sendiri.
Jika menangis, jangan langsung diangkat dan ditenangkan; tunggu sejenak sebelum meresponsnya. Namun, sebelum memberikan metode ini, pastikan buah hati sudah kenyang dan aman.
Kelebihan dari metode “cry it out” adalah membantu si kecil untuk bisa tidur mandiri. Namun, tidak semua orang tua siap untuk membiarkan mereka menangis. Dalam beberapa kasus, orang tua justru merasa stres dan trauma.
Sehingga penting sekali untuk mempertimbangkan secara matang apakah metode ini tepat bagi orang tua dan buah hati.
2. Ferber Method
Ferber adalah metode sleep training yang lebih terstruktur. Melalui cara ini, Anda dapat membiarkan bayi menangis sebentar saat hendak tidur, lalu menenangkannya dengan jeda waktu yang makin lama.
Ketika si kecil menangis, tunggu beberapa menit terlebih dahulu, lalu tenangkan sebentar tanpa perlu menggendong atau menyalakan lampu. Jika mereka masih menangis, ulangi cara tersebut dengan jeda waktu yang lebih lama, misalnya 5 hingga 10 menit.
Melalui metode ini, Anda harus menenangkan bayi tanpa menggendongnya. Cara ini dianggap lebih lembut dibandingkan dengan “cry it out”, namun tetap efektif dalam membantu buah hati asalkan orang tua memiliki konsistensi dan kesiapan emosional karena bayi akan tetap menangis pada proses awal.
3. The Chair / Camping Out Method
Sesuai dengan namanya, metode ini akan melibatkan sebuah kursi. Ketika bayi dibaringkan untuk tidur, orang tua dapat duduk di dekatnya sampai si kecil terlelap. Jika mereka menangis, cukup tenangkan mereka dengan tepukan yang lembut tanpa harus menggendong.
Posisi kursi dapat dijauhkan sedikit demi sedikit setiap malam sampai akhirnya orang tua keluar dari ruangan. Metode ini cocok bagi orang tua yang ingin tetap mendampingi bayi, namun tanpa intervensi berlebihan, hanya saja membutuhkan kesabaran dan waktu lebih lama agar buah hati dapat terbiasa tidur secara mandiri.
4. Bedtime Fading Method
Metode ini merupakan teknik untuk mengatur dan menyesuaikan jam tidur secara bertahap mengikuti ritme alaminya. Orang tua dapat menggeser waktu tidur 10-15 menit sampai akhirnya dapat menemukan jadwal yang pas untuk buah hati.
Metode ini cocok diterapkan apabila si kecil belum mengantuk pada jam tidur biasanya. Orang tua dapat memperhatikan tanda-tanda kantuk pada si kecil, seperti menguap atau mengucek mata untuk penyesuaian yang lebih cepat.
Kelebihan dari metode ini yaitu memberikan cara yang lebih lembut serta mengikuti kebutuhan bayi secara alami. Namun, cara ini membutuhkan waktu yang lebih lama karena harus dikombinasikan dengan metode-metode lain agar mendapatkan hasil yang optimal.
5. Pick Up, Put Down Method (Metode Angkat dan Letakkan)
Metode terakhir yang banyak digunakan adalah metode angkat dan letakkan atau pick up, put down. Melalui cara ini, Anda dapat menggendong buah hati saat menangis, kemudian meletakkannya kembali ke tempat tidur saat sudah lebih tenang atau mengantuk.
Kelebihan dari metode ini adalah bayi akan merasa lebih aman dan diperhatikan sampai akhirnya tertidur sendiri. Namun, kekurangannya, orang tua memerlukan kesabaran ekstra dan waktu yang cukup lama karena harus dilakukan berulang kali sampai si kecil berhasil terlelap secara mandiri.
Langkah-Langkah Sleep Training yang Aman
Secara umum, waktu yang dibutuhkan untuk melatih bayi tidur sendiri yaitu sekitar 3 hari sampai 2 minggu, sampai akhirnya mereka dapat terbiasa. Namun, durasi pasti keberhasilan setiap bayi dapat berbeda-beda tergantung pada konsistensi dan metode yang dipilih oleh orang tua dalam mempraktikkannya setiap hari.
Jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal dalam menerapkan metode ini, berikut adalah beberapa langkah atau cara sleep training yang aman dan bisa dilakukan bagi si kecil.
- Pastikan Kesiapan Bayi: Umumnya, usia untuk melatih tidur secara mandiri yaitu ketika bayi sudah menginjak 4-6 bulan dan memiliki berat badan berkisar antara 6-6,5 kg. Pada usia ini, mereka biasanya sudah tidak perlu menyusu lagi di malam hari. Namun, pastikan bahwa buah hati memiliki kondisi fisik yang prima; jangan mulai ketika sedang sakit, tumbuh gigi, atau growth spurt (periode percepatan pertumbuhan).
- Ciptakan Lingkungan dan Rutinitas Tidur yang Nyaman: Lakukan aktivitas-aktivitas yang dapat menenangkan buah hati setiap malam, seperti memandikannya dengan air hangat, memijat lembut, atau membacakan buku. Pastikan juga kamar memiliki suhu yang sejuk, lampu tidur redup, serta tidak ada mainan. Ketika membaringkan buah hati, pastikan posisi terlentang di atas kasur yang datar dan keras tanpa adanya selimut tebal, bantal, atau boneka agar terhindar dari risiko Sudden Infant Death Syndrome (SIDS).
- Terapkan Teknik yang Tepat: Baringkan buah hati ketika mereka sudah terlihat mengantuk, namun masih dalam keadaan sadar untuk membantu mereka belajar tertidur secara alami.
- Pilih Metode yang Sesuai: Pilih metode yang sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan orang tua dan anak. Ada banyak metode sleep training yang aman, mulai dari Cry It Out, The Chair/Camping Out, Pick Up Put Down, dan masih banyak lainnya.
- Pantau Perkembangan: Konsistensi merupakan kunci dari keberhasilan. Pantau selalu bagaimana perkembangan buah hati selama dilatih untuk tidur secara mandiri. Jika menunjukkan tanda-tanda negatif seperti stres berat, hentikan prosesnya sejenak dan konsultasikan dengan dokter anak untuk mendapatkan saran terbaik.
Apakah sleep training aman untuk bayi?
Tidak dapat dipungkiri, membiarkan anak menangis sebelum tidur merupakan tantangan yang cukup besar bagi orang tua. Tidak sedikit juga orang tua yang merasa ragu dan bertanya-tanya apakah sleep training benar-benar aman dan tidak berbahaya bagi bayi.
Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, banyak penelitian klinis dan psikologis mutakhir menunjukkan bahwa sleep training yang dilakukan dengan cara yang benar, konsisten, sekaligus penuh kasih sayang tidak terbukti memicu trauma psikologis bagi buah hati atau merusak kedekatan antara orang tua dengan anak.
Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Pediatrics pada tahun 2012 oleh Price dkk., dengan mengikuti 326 anak selama 5 tahun setelah menjalani program tidur perilaku di masa bayi, hasilnya menunjukkan bahwa tidak ditemukan perbedaan yang signifikan di antara anak yang menjalani sleep training dengan yang tidak, baik itu dari sisi kondisi emosi, perilaku, ataupun kualitas kedekatannya dengan orang tua.
Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Michal Kahn, PhD, dkk., pada tahun 2023 yang melibatkan 2090 orang tua bayi di Amerika Serikat yang berusia 3–18 bulan untuk membandingkan efektivitas dan keamanan dari berbagai metode sleep training. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada dampak buruk yang dihasilkan terkait kedekatan orang tua dan bayi maupun kualitas tidur dan tingkat depresi orang tua.
Hal tersebut menjadi bukti kuat bahwa sleep training dapat diterapkan asalkan dilakukan dengan cara yang benar dan tepat.
Kapan Sleep Training Tidak Dianjurkan?
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sleep training sebaiknya diterapkan dengan cara bertahap dan tidak kaku, apalagi jika usia anak masih di bawah tiga tahun. IDAI juga mengimbau agar orang tua memastikan kondisi anak sehat sebelum memulai dan harus diawasi dengan ketat selama prosesnya berjalan, bukan ditinggal sendirian tanpa adanya pemantauan sama sekali. Jika buah hati menangis dalam waktu yang lama atau bahkan menunjukkan tanda-tanda stres, orang tua dianjurkan untuk menghentikan metode yang sedang diterapkan.
Selain itu, para ahli umumnya merekomendasikan untuk tidak memulai sleep training sebelum usia 4-6 bulan. Pada rentang usia ini, bayi biasanya belum siap secara fisik, masih membutuhkan asupan susu di tengah malam, serta kontrol napas dan refleksnya belum sepenuhnya matang.
Kondisi lain yang membuat sleep training sebaiknya ditunda, antara lain saat bayi sedang sakit atau tumbuh gigi, karena pada masa ini mereka membutuhkan kenyamanan ekstra dari orang tua. Begitu juga saat bayi mengalami growth spurt atau sleep regression, sebaiknya sleep training tidak dipaksakan karena periode ini secara alami dapat mengganggu siklus tidur bayi.
Kesimpulan
Sleep training merupakan cara efektif yang bisa orang tua terapkan untuk melatih buah hati tidur secara mandiri. Meskipun banyak keraguan yang dirasakan, sudah banyak penelitian dan pendapat para ahli yang membuktikan bahwa metode ini dapat berjalan dengan aman jika dilakukan secara bertahap, sesuai usia dan kondisi kesehatan bayi, serta tetap dalam pengawasan yang maksimal.
Melatih si kecil untuk tidur yang cukup dan mandiri dapat membantu mereka membangun energi penuh dan lebih siap mengeksplorasi dunia di sekitarnya ketika terbangun. Energi dari tidur yang cukup dapat disalurkan lewat bermain di Mai Main Playground Canggu untuk mendukung tumbuh kembangnya.


