Sebagai orang tua, Anda harus mengetahui tahapan dan perkembangan bermain pada anak untuk mengawasi tumbuh kembang mereka. Pengetahuan terkait hal tersebut dapat dilihat melalui teori Mildred Parten, seorang sosiolog dan peneliti yang mengembangkan enam tahapan bermain anak.
Di setiap tahapan perkembangan ini, kemampuan sosial si kecil dapat dipantau dengan rinci karena memiliki karakteristik berbeda dan merupakan bagian alami dari proses tumbuh kembang anak. Mari simak langsung penjelasan tentang tahapan dan perkembangan pada anak agar Anda lebih memahami si kecil.
Bermain Unoccupied (0-3 bulan)
Tahapan bermain menurut Parten dimulai dari bermain unoccupied (0-3 bulan), di mana tahap ini terlihat pada bayi dan anak yang masih kecil. Si kecil tidak memainkan mainan dengan tujuan tertentu, tetapi fokus mengamati lingkungan dan melakukan gerakan sederhana.
Contoh sederhana dalam tahapan bermain unoccupied ini adalah menggerakkan tangan dan kaki. Lalu, si kecil juga memperhatikan benda di sekitarnya dan melakukan gerakan-gerakan sederhana.
Kegiatan ini memang terlihat cukup sederhana bagi si kecil. Namun, tahap ini membantu ia mengenal tubuh, gerakan, suara, dan lingkungan sekitarnya, sehingga ia paham akan apa yang terjadi di sekitarnya.
Bermain Soliter (3 bulan – 2,5 tahun)
Tahapan perkembangan bermain berikutnya adalah bermain soliter yang terjadi pada usia 3 bulan sampai 2,5 tahun. Pada tahap ini, anak belum tertarik untuk melibatkan pihak lain dalam permainannya.
Salah satu contoh dari tahap ini adalah ketika si kecil menyusun balok, memainkan boneka, menggambar, atau bermain dengan mobil-mobilan sendiri. Ini semua dilakukan oleh si kecil sendirian tanpa melibatkan anak lain di dekatnya.
Menurut Parten, tahapan bermain soliter membantu si kecil dalam mengembangkan kemandirian. Selain itu, konsentrasi, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah dapat berkembang seiring berjalannya proses bermain.
Bermain Onlooker (2,5 – 3,5 tahun)
Bermain onlooker terjadi ketika anak berada di rentang usia 2,5–3,5 tahun. Di tahap ini, anak mulai tertarik melihat anak lain bermain, namun ia belum terlibat secara langsung dalam permainan anak.
Salah satu contoh dari tahapan ini adalah si kecil yang berdiri di dekat teman-temannya yang sedang bermain pasir. Ia akan memperhatikan cara teman sebayanya membangun istana pasir di taman bermain.
Pada tahapan ini, anak akan mempelajari aturan sosial dan cara berkomunikasi dengan teman seumurannya. Selain itu, mereka juga akan mempelajari strategi bermain dan memahami bagaimana anak lain berinteraksi.
Bermain Paralel (3,5 – 4 tahun)
Tahapan dan perkembangan bermain pada anak selanjutnya adalah bermain paralel yang terjadi pada usia 3,5 sampai 4 tahun. Dalam tahapan ini, anak akan bermain berdampingan dengan teman sebayanya, menggunakan permainan yang mirip, namun belum bekerja sama.
Contoh dari tahapan bermain ini dapat dilihat dari bagaimana dua anak duduk bersebelahan sambil masing-masing menyusun balok. Mereka tidak menggunakan strategi dalam menyelesaikan permainan bersama.
Manfaat tahapan ini dirasakan langsung oleh si kecil yang akan beradaptasi untuk terbiasa dekat dengan teman sebaya. Bahkan, mereka pun akan belajar cara berbagi ruang dan benda, mengembangkan toleransi, dan menjadi jembatan menuju permainan sosial.
Bermain Asosiatif (4 – 4,5 tahun)
Bermain asosiatif menjadi tahapan berikutnya yang dilalui si kecil dalam tumbuh kembangnya. Pada tahapan ini, anak mulai berinteraksi, berbicara, meminjam atau bertukar mainan, tetapi mereka tidak memiliki tujuan atau aturan bersama yang jelas.
Pada tahapan ini, si kecil akan mulai bermain bersama dengan teman sebaya, seperti bermain masak-masakan atau saling meminjam alat masak dan berbicara satu sama lain. Namun, si kecil dan teman sebayanya masih memiliki ide permainan sendiri.
Dengan begitu, si kecil dapat mengembangkan kemampuan sosial dan komunikasi. Bahkan, ia tahu cara berbagi, bernegosiasi, berempati, dan membangun hubungan dengan teman, sehingga terbentuk ikatan antara si kecil dengan teman sebayanya.
Bermain Kooperatif (4,5 tahun ke atas)
Tahapan bermain menurut Parten terakhir adalah bermain kooperatif yang terjadi pada usia 4,5 tahun ke atas. Pada tahapan ini, anak bermain bersama dengan tujuan, peran, aturan, atau cerita yang disepakati.
Contoh dari tahapan ini adalah ketika si kecil bermain roleplay dengan latar belakang restoran. Satu anak akan menjadi koki, satu menjadi pelayan, dan yang lain menjadi pelanggan, di mana setiap anak bekerja sama untuk mencapai tujuan dalam permainan tersebut.
Bermain kooperatif memberikan manfaat tersendiri bagi si kecil, yaitu membangun kerja sama dan kemampuan dalam mengikuti aturan. Ia juga akan mengetahui cara memimpin, menyelesaikan konflik, berkomunikasi, dan bertanggung jawab sebagai bagian dari kelompok.
Kesimpulan
Mengetahui tahapan dan perkembangan bermain pada anak dapat membantu tumbuh kembangnya menjadi terkontrol. Anda dapat mengawasi tumbuh kembang si kecil agar ia menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan berempati seiring berjalannya waktu.
Untuk membantu si kecil mengeksplorasi banyak permainan, Anda dapat mengajak si kecil ke Mai Main Playground. Mulai dari bermain sendiri, mengamati teman, hingga belajar bekerja sama dan berinteraksi dapat dilakukan di lingkungan yang aman dan family-friendly.


