Gentle parenting vs VOC parenting adalah salah satu topik yang terus diperdebatkan oleh banyak orang tua Indonesia di media sosial. Kedua gaya pengasuhan ini berbeda jauh, satu mengutamakan komunikasi dua arah, empati, dan validasi, sementara yang lain merupakan istilah candaan untuk pola asuh yang lebih tegas, satu arah, dan menuntut kepatuhan.
Banyaknya pilihan gaya pengasuhan yang beredar kerap membuat orang tua ragu apakah cara yang mereka terapkan di rumah sudah tepat untuk buah hati atau belum. Untuk menghilangkan keraguan tersebut, artikel ini akan mengulas tuntas perbedaan gentle parenting dan VOC parenting, lengkap dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Mengenal Gentle Parenting
Gentle parenting adalah sebuah metode pengasuhan anak yang lebih menekankan pada hubungan positif, penuh empati, rasa hormat, sekaligus menekankan pada komunikasi efektif secara dua arah antara orang tua dan anak.
Pola asuh seperti ini lebih mengutamakan pemahaman perasaan serta kebutuhan anak, sambil tetap menetapkan batasan yang jelas dan konsisten. Dengan tujuan untuk membantu buah hati agar tumbuh menjadi individu yang lebih mandiri, penuh percaya diri, serta merasa bahagia.
Dalam gentle parenting, ada empat prinsip dasar yang diutamakan dalam pengasuhannya agar memberikan dampak yang lebih positif dalam tumbuh kembang anak. Beberapa prinsip tersebut adalah:
- Empati
Teknik pengasuhan ini mendorong orang tua untuk memahami dan merasakan apa saja hal yang dirasakan oleh anak. Dengan begitu, orang tua dapat melihat dunia dari sudut pandang si kecil serta berusaha untuk memvalidasinya, bahkan ketika tidak setuju dengan perilaku atau kesalahan yang dilakukan.
- Rasa Hormat
Orang tua didorong untuk menghargai anak sebagai seorang individu yang unik dan memiliki hak untuk dihargai sekaligus didengarkan pendapatnya. Dengan cara ini, orang tua tidak boleh merendahkan atau mempermalukan anak yang dapat melukai perasaan mereka.
- Pengertian
Orang tua perlu memahami alasan di balik perilaku atau sikap anak, termasuk apa saja yang bisa menjadi pemicunya. Dengan begitu, orang tua bisa lebih memahami bahwa setiap sebab pasti membawa akibat, sehingga lebih mudah mencari cara untuk mengatasi masalah dengan pendekatan yang positif.
- Batasan
Dalam teknik pengasuhan ini, orang tua harus menetapkan batasan yang lebih jelas dan konsisten, namun dengan cara yang tetap penuh dengan rasa kasih sayang sekaligus pengertian. Setiap batasan yang diterapkan juga harus dijelaskan alasannya dengan baik kepada si kecil agar mereka memahami mengapa suatu hal dilarang. Selain itu, mereka juga harus dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan apabila memungkinkan.
Kelebihan
Jika diterapkan dengan baik dan konsisten, gentle parenting memiliki beberapa kelebihan dalam proses pengasuhannya yang dapat mendorong tumbuh kembang anak secara lebih baik dan mempererat kualitas hubungan antara orang tua dan anak. Adapun beberapa kelebihan tersebut adalah sebagai berikut:
Pola pengasuhan ini dapat memupuk tali hubungan yang lebih kuat dan lebih positif antara orang tua dan anak karena komunikasi yang dibangun lebih terbuka, sehingga bisa memberikan rasa aman dan anak tidak merasa takut untuk jujur kepada orang tua.
- Meningkatkan Kemampuan Emosional Anak
Dengan pola asuh yang dijalankan secara lebih gentle, anak akan lebih mudah untuk mengenali, memvalidasi, sekaligus mengontrol emosinya sendiri karena metode ini menekankan pada validasi emosi, komunikasi yang dijalankan secara dua arah, serta pengajaran untuk regulasi diri, bukan hanya menuntut kepatuhan melalui hukuman.
- Meningkatkan Rasa Kepercayaan Diri Anak
Pola asuh ini berusaha menghargai perasaan si kecil, membangun komunikasi dua arah, dan membimbing mereka mengatasi masalah tanpa ancaman atau hukuman berat. Dengan pendekatan ini, si kecil akan merasa lebih aman secara emosional untuk mencoba hal-hal baru, belajar dari kesalahan, dan tumbuh dengan rasa percaya diri yang lebih kuat.
- Mendorong Kemandirian dan Rasa Tanggung Jawab
Dengan mengajak anak untuk berpikir sendiri melalui pertanyaan terbuka dan diskusi, alih-alih memberi perintah langsung, anak akan terbiasa mengambil keputusan dan inisiatif sendiri. Mereka akan lebih memahami konsekuensi dari tindakannya melalui penjelasan, bukan hanya hukuman, dan mereka akan tumbuh dengan rasa tanggung jawab yang datang dari kesadaran diri mereka sendiri, bukan sekadar rasa takut.
Kekurangan
Meskipun gentle parenting dapat memberikan berbagai kelebihan dan manfaat, jika tidak dijalankan dengan baik, metode pengasuhan ini tetap memiliki beberapa kekurangan. Adapun kekurangan tersebut adalah sebagai berikut:
- Membutuhkan Waktu dan Kesabaran yang Ekstra
Metode pengasuhan ini menuntut orang tua untuk selalu aktif berdialog bersama buah hati, menjelaskan apa saja konsekuensi, serta memvalidasi emosi mereka, yang tentunya akan memakan lebih banyak waktu dibandingkan sekadar memberikan perintah secara langsung. Untuk beberapa orang tua, khususnya dengan jadwal padat atau energi terbatas, metode ini menguji kesabaran dan dapat menjadi tantangan tersendiri.
- Berisiko untuk Disalahartikan sebagai Permisif
Jika dijalankan tanpa adanya batasan yang jelas, metode pengasuhan ini dapat menghasilkan pemahaman keliru atau menjadi pola asuh yang terlalu longgar. Anak akan jarang menghadapi konsekuensi nyata dari perilaku mereka, sehingga berisiko membuat anak kesulitan dalam memahami batasan atau otoritas saat berada di luar rumah.
- Hasil Tidak Instan
Berbeda dengan VOC parenting yang lebih otoriter, gentle parenting membutuhkan waktu dan proses yang lebih lama sebelum perilaku buah hati dapat benar-benar terlihat perubahannya. Beberapa orang tua mungkin akan lebih mudah frustrasi di pertengahan prosesnya karena mengharapkan hasil yang lebih cepat.
- Membutuhkan Pemahaman yang Lebih Mendalam Bagi Orang Tua
Untuk menjalankan gentle parenting secara tepat, orang tua membutuhkan pemahaman yang mendalam mengenai psikologi dan regulasi emosi anak. Tanpa adanya pemahaman yang cukup, metode ini berisiko diterapkan secara tidak konsisten atau membingungkan anak.
Mengenal VOC Parenting
Parenting VOC adalah sebuah istilah yang ramai digunakan oleh netizen di media sosial untuk menyebut pola asuh yang dilakukan secara otoriter, kaku, dan menuntut kepatuhan secara mutlak, mirip dengan masa kolonial.
Parenting VOC memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan gentle parenting, di mana pola ini dijalankan dengan komunikasi satu arah; anak harus menurut pada apa pun yang dilontarkan oleh orang tua tanpa adanya ruang untuk bertanya dan berpendapat. Selain itu, metode ini juga lebih minim empati dengan standar yang lebih kaku.
Keputusan hidup anak biasanya diatur sepenuhnya oleh orang tua, tanpa adanya kesempatan untuk berdiskusi. Selain itu, penggunaan bentakan, ancaman, maupun hukuman fisik juga menjadi hal utama dalam mendisiplinkan anak melalui metode ini.
Kelebihan
Seperti yang sudah disebutkan di atas, didikan VOC adalah pola asuh yang memang identik dengan sisi otoriter. Namun, teknik pengasuhan ini tetap memiliki beberapa kelebihan, di antaranya:
- Anak Lebih Taat Aturan
Dengan metode pengasuhan ini, aturan yang diterapkan berjalan lebih ketat tanpa ada pengecualian, sehingga anak akan terbiasa mengikuti tata tertib dan aturan di rumah dengan lebih disiplin tanpa adanya bantahan.
- Rutinitas Lebih Terstruktur
Anak akan lebih mudah memahami setiap batasan dan mengetahui konsekuensi tegas apa saja apabila melanggar aturan tertentu yang diberikan oleh orang tua, karena konsekuensi tersebut diterapkan secara konsisten.
- Lebih Mandiri
Anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri secara lebih cepat karena terbiasa dengan tuntutan tanggung jawab di rumah sejak kecil.
- Menghindari Risiko
Orang tua yang memiliki kontrol penuh terhadap buah hati dapat mencegah mereka terjerumus ke dalam pergaulan bebas atau kenakalan remaja.
Kekurangan
Meskipun memiliki beberapa kelebihan yang dapat membantu anak untuk lebih mandiri, penuru, dan mencegah risiko terjerumus pergaulan bebas ketika tumbuh remaja, Menurut Psikolog Meity Arianty, dikutip dari Kompas.com, pola asuh otoriter seperti ini memiliki banyak kelemahan yang justru dapat menghambat perkembangan mental dan emosional si kecil, di antaranya:
- Komunikasi Orang Tua dan Anak Lebih Minim
Dialog yang dilakukan melalui metode pengasuhan ini berjalan satu arah, di mana orang tua berperan sebagai pemberi perintah dan anak hanya menjadi pelaksana. Mereka jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan, termasuk yang menyangkut diri mereka sendiri, sehingga akan sulit belajar mengenai cara berpendapat atau menyampaikan apa yang dirasakan dengan sehat.
- Anak Merasa Tidak Dihargai
Anak biasanya akan dituntut untuk patuh tanpa adanya ruang untuk memberikan pandangan atau pendapat, sehingga mereka bisa tumbuh dengan rasa rendah diri. Jika dibiarkan, hal tersebut dapat memunculkan risiko hilangnya kepercayaan diri dan ketidakmampuan untuk mengambil sebuah keputusan saat tumbuh dewasa kelak.
- Memunculkan Perlawanan Terselubung
Dengan tekanan emosional yang berat sejak kecil, alih-alih tumbuh menjadi sosok yang penurut, anak bisa menyimpan perlawanan secara diam-diam sehingga bisa memunculkan bentuk perilaku pasif-agresif, bohong, atau bahkan suka membangkang ketika memasuki usia remaja dan dewasa.
- Anak Tumbuh Dalam Rasa Takut
Kepatuhan yang dihasilkan biasanya tumbuh karena rasa takut terhadap hukuman fisik atau verbal yang diberikan oleh orang tua jika buah hati melanggar aturan tertentu, bukan atas dasar pemahaman yang baik atau dorongan dalam diri mereka sendiri.
- Gangguan Validasi Emosi
Anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang sulit mengenali dan mengatasi emosi mereka sendiri. Biasanya emosi akan dipendam dan berisiko untuk meledak di masa depan atau memunculkan gangguan kecemasan.
Cara Memadukan Parenting VOC dan Gentle Parenting Agar Pola Asuh Lebih Seimbang
Sampai saat ini, didikan yang dilakukan secara gentle dan VOC terus diperdebatkan oleh orang tua di media sosial. Ada yang setuju sebaiknya anak dididik dengan cara yang keras dan tegas, namun ada juga yang tidak setuju dan memandang bahwa gentle parenting lebih baik dan dapat membantu perkembangan anak agar tidak tumbuh menjadi individu yang dipenuhi oleh rasa trauma akibat aturan ketat dari orang tua.
Dari semua perdebatan tersebut, muncul pertanyaan tentang bagaimana jika keduanya digabungkan. Memadukan kedua gaya pengasuhan ini bukan berarti menerapkan sisi otoriter dari gaya parenting VOC, melainkan lebih mencari jalan tengah yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak.
Mengutip Kompas.com, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga) Isyana Bagoes Oka berpendapat bahwa orang tua sebaiknya tidak hanya fokus pada satu metode tertentu, tetapi harus menyesuaikannya dengan kebutuhan psikologis anak.
Orang tua tidak perlu bingung untuk memilih salah satu secara mutlak mengenai gaya pengasuhan yang bisa diterapkan di rumah, asalkan kedua pendekatan tersebut dapat saling melengkapi dan sesuai kebutuhan anak agar prosesnya tepat. Nah, berikut adalah bagaimana cara memadukan sisi positif parenting VOC dan gentle parenting agar pola asuh lebih seimbang:
1. Tetap Pertahankan Batasan, Namun Bukan Kontrol yang Berlebihan
Dalam proses pengasuhan buah hati, aturan dan batasan memang tetap dibutuhkan agar mereka dapat memahami apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Namun, hal tersebut bukan berarti diterapkan secara kaku dan dengan kontrol penuh ala parenting VOC; batasan harus diberikan dengan penjelasan dan bukan perintah satu arah agar lebih dipahami oleh si kecil.
2. Ganti Hukuman yang Diberikan dengan Konsekuensi Logis
Dibandingkan dengan memberikan hukuman secara fisik atau verbal seperti yang banyak dilakukan oleh para orang tua dengan gaya parenting VOC. Sebaiknya, hukuman diganti dengan konsekuensi yang berkaitan secara langsung dengan pelanggaran apa pun yang dilakukan oleh anak. Cara ini akan mengajarkan mereka untuk tetap bertanggung jawab tanpa meninggalkan rasa trauma.
3. Bukalah Ruang Untuk Anak Menyampaikan Pendapat
Berilah kesempatan kepada buah hati untuk menyampaikan pandangan mereka terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan secara final mengenai apa saja hal yang bersangkutan dengan mereka. Komunikasi dua arah seperti ini dapat menghindari pola satu arah yang tidak melibatkan pendapat anak, sehingga dapat membantu mereka untuk belajar mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
4. Validasi Perasaan Buah Hati Sebelum Menegakkan Aturan
Ketika si kecil melanggar sebuah aturan yang diterapkan, akui dulu apa yang mereka rasakan sebelum menjelaskan konsekuensi dari perilakunya. Jelaskanlah menggunakan kata-kata penuh perhatian. Pendekatan dengan cara ini dapat membantu anak merasa dipahami, bukan hanya sekadar dihukum seperti pola asuh yang otoriter.
5. Baca Apa yang Anak Butuhkan, Jangan Terpaku Pada Satu Gaya
Mengutip sumber yang sama, Isyana Bagoes Oka menyampaikan bahwa dalam pengasuhan, terkadang ada momen-momen tertentu di mana anak membutuhkan pendekatan yang lebih gentle, namun ada juga waktu di mana mereka menuntut ketegasan yang lebih. Dengan begitu, orang tua jangan hanya fokus menentukan gaya mana yang lebih dominan untuk diterapkan, tetapi pastikanlah bahwa cara yang dipilih memang benar-benar berjalan sesuai dengan kebutuhan buah hati.
Kesimpulan
Dari perdebatan gentle parenting vs VOC parenting, kita dapat memahami bahwa didikan VOC adalah pola asuh dengan pendekatan yang sangat berbeda dari gentle parenting. Memadukan keduanya bukan berarti menegakkan aturan yang bersifat otoriter, namun harus dilengkapi dengan penjelasan dan memberikan ruang bagi buah hati untuk memberikan pendapat agar menjadi jalan tengah yang lebih seimbang.
Orang tua perlu menerapkan pola parenting anak yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan agar tidak meninggalkan luka emosional maupun menghilangkan kedekatan di antara keduanya. Selain pola asuh sehari-hari yang tepat, hubungan itu juga bisa diperkuat lewat momen liburan bersama keluarga di luar rumah, seperti di Mai Main Playground Canggu, untuk mempererat komunikasi dua arah bersama si kecil.


